Diary Ali : Kronologi Serangan Udara Israel di Jalur Gaza

Posted: December 30, 2008 by Pak RT in Berita
Tags: , , , , , ,

Berikut tulisan Mohammed Ali, salah seorang warga Gaza yang menyaksikan  serangan udara 3 hari berturut-turut sepanjang jalur Gaza. Berita ini saya kutip dari Al-Jazeera

Day 1 – Black Saturday in Gaza

Saya sedang di rumah, berbaring di atas tempat tidur. Waktu itu pukul 11.30 am; waktu dimana pelajar memenuhi jalan-jalan sepulang sekolah menuju ke rumah. Tiba-tiba terdengar sebuah ledakan keras. Kemudian disusul ledakan berikutnya. Jendela rumah saya sampai bergetar keras.

israeli-air-force1

Saya melompat dari tempat tidur & menyalakan TV, tapi tidak menyala__listrik rupanya padam. Saya panik & berlari keluar mencari tahu apa yang terjadi.

Suara ledakan kembali terdengar. Kali ini lebih keras & terdengar semakin dekat. Saya berlari ke pintu depan & melihat ke atas langit. Asap hitam mengepul dimana-mana.

Saat saya mencari tahu apa yang terjadi, seseorang mengatakan pada saya :” Jet tempur Israel menembak kantor polisi & rumah-rumah pimpinan Hamas.”

Saya baru tersadar bahwa ledakan yang saya dengar tadi menimpa kantor polisi Al Abbas, 300 meter jaraknya dari rumah saya. Pertama kali yang terlintas dalam benak saya adalah memanggil istri saya & memeriksa keadaan 2 anak saya yang masih kecil-kecil. Semalam mereka menghabiskan waktu di rumah saudara istri saya di Khan Younis, selatan Gaza. Sinyal telepon selular mati. Setelah 20 menit berusaha akhirnya bisa terhubung juga dengan istri saya. Dia mengatakan anak-anak ketakutan tapi mereka baik-baik saja.

 

Polisi jadi korban pembomban pesawat tempur Israel

Polisi jadi korban pembomban pesawat tempur Israel

Dia menangis sambil melihat TV. Dia mengatakan dia melihat lebih dari 50 orang terbunuh & bergelimpangan di jalan.

 

Sekarang saya tahu bahwa istri & anak-anak saya baik-baik saja.  Tetapi saya belum bagaimana kabar adik-adik saya beserta anak-anaknya. Saya sempat terhubung salah satu adik saya-dia menangis, tidak tahu dimana anak-anaknya berada. Tapi akhirnya sejam kemudian mereka tiba di rumah dengan selamat. 

 State of shock

Ketika saya berdiri di luar rumah dalam keadaan benar-benar shock, saya mendengar jeritan seorang wanita. Orang-orang berlarian menuju sumber suara. Mereka berteriak-teriak “Mohammed terbunuh!”. Mohammed Habboush adalah tetangga saya berusia 26 tahun. Saya sangat sedih karena saya kenal baik dengannya.

Sejam kemudian, saya mendapat SMS seorang teman ikut terbunuh pula.

Keluarga saya tiba dari Khan Younis siang hari. Saya sangat bersyukur melihat mereka baik-baik saja. Kami semua duduk bersama di depan TV menyaksikan apa yang terjadi sambil diliputi perasaan takut pasca ledakan. Di hadapan keluarga saya berpura-pura tegar, agar mereka tidak semakin panik & merasa aman, tetapi sejujurnya saya pun sangat-sangat takut.

Pada pukul 11 malam telpon selular istri saya berdering. Sebuah rekaman suara terdengar dari tentara Israel : “Jika kalian memiliki senjata di dalam rumah, sebaiknya kalian segera pergi jika tidak kami akan menjadikan rumah anda sebagai target berikutnya”.

 Awalnya saya mengatakan pada istri bahwa kita tidak perlu khawatir karena kita tidak memiliki senjata apapun di dalam rumah. Akan tetapi, 10 menit kemudian ayah saya, yang tinggal di lantai atas, memanggil saya & mengatakan dia menerima pesan yang sama lewat telepon selulernya. Saat itulah saya mulai panik.

Day 2 – Sleeping with one eye open

Ketika saya tertidur pada malam ke-2 serangan udara Israel, saya betul-betul ketakutan kalau tidak akan bangun-bangun lagi. Jadi saya tidur dengan satu mata terbuka untuk mengawasi keluarga saya tetap aman.

Setidaknya, satu jam sekali saya terbangun dari tidur karena terdengar suara ledakan.

Lalu saya memeriksa keadaan istri & anak-anak. Sempat terlintas, jangan-jangan rumah saya jadi target jet Israel selanjutnya.

Saat dini hari, saya terbangun & mendapati anak saya yang masih bayi, 15 bulan, berjalan di ruang tamu. Segera saya gendong sampai dia tertidur.

Ibu saya memanggil kami untuk sarapan. Seluruh keluarga berkumpul melingkari meja makan. Ibu saya, sudah lama menderita gangguan jantung, menjelaskan kepada kami saat tadi malam mendengar suara ledakan sepanjang malam membuat jantungnya berdegup kencang.

Supplies running out

Sudah jadi rahasia umum bahwa kehidupan di sepanjang jalur Gaza sangat bergantung pada suplai yang diselundupkan dari Mesir lewat terowongan bawah tanah, khususnya pasca blokade Israel di bulan November. Saat kami mendengar Israel menyerang & menghancurkan lorong tersebut, ayah saya segera pergi ke toko & memborong makanan disana.

Day 3 – Memories destroyed

Malam ini adalah malam ketiga serangan Israel. Kedua anak saya, istri, adik ipar yang tinggal bersama semuanya tidur bersama di ruang tamu, letaknya di tengah-tengah flat kami.

Sepanjang malam rata-rata 2 kali serangan setiap 10 menit di Gaza City. Di TV kami mendengar militer Israel menghancurkan sebuah mesjid di kamp pengungsi Jabbalia, sebelah utara jalur Gaza. Kami semua terkejut mendengarnya, apalagi ada sebuah rumah rubuh menewaskan 5 orang kakak beradik di dalamnya & mencederai 11 anggota keluarga lainnya. Kami semua menangis melihat kenyataan tidak ada satupun yang selamat dari serangan udara tersebut.

Akhirnya kami tertidur juga. Hanya berjarak 500 meter dari rumah kami, sebuah serangan menyergap bangunan Universitas Islam. Saya pernah bersekolah disana, Islamic University of Gaza. Saat saya mendengar rudal F16 Israel meluluhlantakkan kampus tersebut, saya merasa seluruh kenangan indah saya turut hancur lebur.

Saya menelpon seorang adik saya yang tinggal tidak jauh dari universitas itu. Dia mengatakan : “Kami sangat takut. Tak tahu harus kemana & apa yang harus diperbuat. Ledakan itu menggetarkan seluruh bangunan disekitarnya.”

Saya mendengarkannya tapi saya tidak memiliki kata-kata yang bisa memberikannya rasa aman. Bagaimana saya bisa? Sangat jelas bahwa tak satupun orang selamat.

Advertisements
Comments
  1. […] betul-betul bikin dada sesak. Membaca diary Mohammed Ali, seorang warga Gaza, membantu saya membayangkan bagaimana kronologi kejadian yang […]

    Like

  2. witoyo says:

    benar2 memprihatinkan, tapi apa boleh buat semua terjadi sudah di rencanakan oleh musuh antar negara.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s