Membongkar Aib Amerika Di Film 13 Hours : The Secret Soldiers of Benghazi Besutan Michael Bay

Posted: May 28, 2016 by Pak RT in Berita, Film
Tags: , , ,

 

Walaupun terhitung telat publish artikel tentang film perang yang menohok politik Amerika  “13 Hours : The Secret Soldiers of Benghazi” tapi nggak apa-apalah. Better late than never….hehehe. Walaupun sudah lewat 4 tahun tragedi Benghazi masih menyisakan skandal politik. Ya….aroma politiknya terlalu kental apalagi sekarang lagi musim capres di Amrik sono. Hillary Clinton yang masih doyan nyapres sudah pasti diserang dengan isu Benghazi Attack.

Dari sejak filmnya dirilis Januari tahun ini, hingga hari ini para pelaku sejarah di balik dibuatnya film 13 Hours The Secret Soldiers of Benghazi terus diundang bicara di media untuk bercerita apa yang sebenarnya terjadi waktu itu. Oke deh, sekarang kita belum bicara tentang politik. Mari kita kupas filmnya dulu. Tapi saya tetap akan bahas politiknya….hehehe….menarik sih 😀

Film yang sebenarnya diangkat dari buku 13 Hours: The Inside Account of What Really Happened in Benghazi yang ditulis Mitchell Zuckoff (saya belum baca bukunya, baru beres download mudah2an minggu ini sudah kelar baca jadi bisa sharing buat anda semua pembaca Lapakairsoft.com yang setia), telah meraup $52.9 juta di Amerika & $15.6 juta di wilayah lainnya. Total pendapatan $68.5 juta hanya dari modal $50 juta. Ini satu prestasi lagi bagi Michael Bay, sang sutradara yang terkenal dengan film besutannya “The Transformers”.

Garapan cinematografinya sangat khas ala Michael Bay sehingga anda bisa rasakan langsung kesamaannya dengan cinematografi The Transformers. Aksi dar der dor & ledakan disana-sini tidak lepas dari tangan dingin Michael Bay. Para aktor yang dipilih memainkan peran para veteran Ranger, Seals, Marine mewakili sosok tentara private military contractor, tampilan kasual informal dengan jenggot lebat menghiasi dagu-dagu mereka, menambah kesan “badass” atau garang/intimidatif.

Oke….dari sisi film, cukup ya. Selebihnya anda bisa nonton deh. Saya sudah kasih link filmnya di akhir artikel ini, silakan cari hot spot wifi terdekat, cari sinyal wifi yang kenceng dan free, silakan gih download 😀

Sebelum download kenapa nggak intip dulu trailernya? Monggo….

Dari sudut politik, film ini dapat banyak catatan. Tentu saja Washington yang meradang. Kenapa Washington gerah dengan film ini? Oke, kita kupas tentang cerita di balik film ini, ok?

Pada tahun 2012, Benghazi, Libya adalah nama salah satu tempat paling berbahaya di dunia, dan banyak negara yang telah menarik duta besar mereka keluar dari Libya karena ketakutan ancaman serangan oleh militan sewaktu-waktu. Karena pada saat itu Spring of Arab sedang terjadi di Tunisia, Mesir dan beberapa negara Arab lain termasuk Libya. Amerika Serikat, bagaimanapun, terus mempertahankan kantor kedutaan tetap buka karena ada misi khusus yang sedang dioperasikan di kota Benghazi.

Kurang dari satu mil jauhnya ada outpost CIA. Tidak begitu rahasia keberadaannya. Disebut “The Annex”, yang dilindungi oleh tim Kontraktor Militer Swasta dari Global Staf Response (GSR) terdiri dari para mantan personel operasi khusus militer.

peta kedutaa AS benghazi

Duta Besar AS untuk Libya, J. Christopher Stevens  tiba di Benghazi untuk mempertahankan koneksi diplomatik di tengah-tengah kekacauan politik dan sosial. Meskipun telah ada peringatan, entah bagaimana, Duta Besar Stevens memutuskan tetap tinggal di kedutaan dengan perlindungan dari sepasang Agen Keamanan Diplomatik dan 17 penjaga yang disewa dari orang-orang lokal, yang dikemudian hari 17 penjaga ini lari dari tugas penting mereka. Bayangin, hanya sepasang security agent!! Apa nggak aneh??

Pada pagi hari setelah peringatan 11 September kesebelas, Stevens sempat mengetahui ada pria yang mencurigakan mengambil gambar kedutaan dan memberitahukan detil keamanannya. Tanpa diduga pada malam harinya, sekelompok militan bebrsenjata menyerang Kedutaan. 17 penjaga asli warga Libya dengan mudah menyerah & meninggalkan pos mereka. Penjaga lokal ini tentu tidak mau mempertaruhkan nyawanya hanya untuk bayaran yang tidak seberapa. Dengan mudah para militan menerobos Kedutaan.

Adegan kontroversial dalam film ini menyebutkan chief of base CIA di Benghazi yang memerintahkan para kontaktor GRS untuk tetap bertahan di base CIA & mengabaikan permintaan membantu kedutaan yang sedang diserang sekelompok orang bersenjata. Kris “Tonto” Paronto selaku CIA kontraktor terlibat dalam aksi kontak senjata sepanjang 13 jam yang melelahkan, menyatakan dengan jelas bahwa mereka diperintahkan untuk diam di tempat. Kata-kata “We were told to ‘stand down” diinstruksikan kata demi kata! 100%!! Dan di film divisualisasikan kembali dengan sangat jelas! Sementara Washington di kemudian hari membuat pembelaan, bahwa tidak ada instruksi seperti itu.

room smoking

Paronto blak-blakan ngomong ke media jika kesaksian dia akan berpengaruh terhadap karir politik seseorang…ya mohon maaf saja, faktanya memang begitu. Di film pun digambarkan bagaimana Paronto berkonflik dengan Chief of Base CIA. Yang menarik malahan salah seorang senator menuduh Paronto dkk berbohong & sengaja mengambil keuntungan finansial dari peristiwa ini karena ia membuat buku & menjualnya dan membantu mempromosikan film tersebut. Tuduhan yang tidak beralasan. Nggak heran di beberapa kesempatan wawancara, para eks kontraktor GRS ini dihadap-hadapkan dengan anggota Kongres AS (tentunya dari partai Demokrat, masih satu gerbong dengan Obama & Clinton) yang menuduh mereka berbohong. Dan mereka bisa ngomong blak-blakan tanpa ada rasa segan. Karena menuduh prajurit Ranger, Navy Seals & Marines berbohong itu tuduhan yang serius. Apalagi ini menyangkut harga diri seorang prajurit.

Wow, seru! Ngajak berantem eks pasukan khusus….hehehe. Ampun deh. Boleh nonton langsung interviewnya di Fox News.

man on ground

Singkat cerita akhirnya kedutaan AS berhasil ditembus, para penyerang membakar beberapa ruangan dimana Duta Besar Stevens & Sean Smith ada didalamnya. Dan akhirnya Stevens ditemukan dalam kondisi kritis karena terlalu banyak menghirup asap. Setiba di rumah sakit, Stevens dinyatakan tewas.

Konflik semakin memanas, setelah kantor kedutaan diserang habis-habisan, giliran base CIA yang diserang di tengah malam. Disinilah pertempuran sengit terjadi dan ini divisualisasikan oleh Michael Bay dengan seru. Itu sebabnya diberi judul “13 Hours”. Dalam pertempuran sengit ini memakan 2 korban jiwa : Tyrone Wood & Glen Doherty. Keduanya kontraktor yang berjibaku di atap bangunan mempertahankan serangan kelompok militan.

Nah, supaya nggak jadi spoiler….hehehe…nanti nonton sendiri aja ya. Karena lagi kudet (kurang update), saya nggak tau apakah film ini sudah ditayangkan di Indonesia atau belum. Buat yang belum nonton silakan hunting DVD nya atau di kickasstorrents (download dulu file torrentnya ya).

Selain itu, semakin menambah bumbu kontroversi dalam cerita “Benghazi Attack” adalah Duta Besar Stevens hanya ditemani oleh sedikit security agent. Anda nanti bisa lihat sendiri di film. Ada yang aneh…..di dalam sebuah kantor kedutaan hanya dijaga oleh sedikit agen, di tengah negara timur tengah yang sedang memanas, bukan? Di dalam investigasi pasca tragedi Benghazi, yang menghabiskan waktu hampir 1 tahun lamanya, terungkap bahwa Duta Besar Stevens ternyata sudah mengajukan permintaan tambahan ekstra security agent beberapa minggu sebelum ia terbunuh. Ini yang jadi pertanyaan banyak pihak mengapa pemerintahan Obama tidak mengabulkan.

ambo

Nambah lagi nih bumbunya…..banyak pertanyaan muncul yang menyerang Presiden Barrack Obama & Hillary Clinton sebagai Secretary of the State, apa yang dilakukan Duta Besar Stevens di Benghazi, sementara duta besar negara lain sudah jauh-jauh hari meninggalkan kota itu? Untuk apa CIA masih nguplek berkantor di Benghazi? Sementara, di film ini pun diungkap, bahwa pemerintah AS baru tahu kalo ternyata CIA berkantor di Benghazi. Big mystery, right?

Oke, rasanya cukup nggak perlu panjang lebar lagi, silakan langsung nonton filmnya. Buat yang sudah nonton, coba nonton sekali lagi, setelah artikel yang saya tulis mudah-mudahan bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Apa kesimpulannya? Kalo soal heroisme, tidak perlu diragukan lagi memang mental prajurit yang dibentuk di kesatuannya membuat naluri & panggilan jiwa seorang serdadu untuk segera mengambil keputusan yang sejalan dengan hati nuraninya. Ceritanya menarik karena ini dialami oleh 6 orang personil Private Military Contractor yang notabene sudah bukan tentara organik lagi. Tentu, ceritanya akan berbeda jika yang mengalami tentara organik yang masih aktif bertugas. Tapi resiko yang harus diambil tetap sama. Jika mereka menentang perintah atasan, maka sanksi pemecatan akan menghantui karirnya. Jadi pilih mana, hati nurani atau karir?

It’s a hard to decide, isn’t it?

Advertisements
Comments
  1. Asfin Nur says:

    ada sedikit koreksi mas. dari yang saya baca. di benghazi secara formal bukan kedutaan resmi, sifatnya hanya diplomatic compound. statusnya malah dibawah dari konsulat. sementara kedutaan resmi US adanya di Tripoli. makanya diplomatic compound ini tidak dijaga oleh US Marine seperti kedutaan USA biasanya. makanya dalam film tersebut ada request ke kedutaan tripoli untuk extraction dimana GRS commander membawa 2 active Specops operator (kalau tidak salah dari Delta) ikut bersama mereka membawa pesawat charter dari tripoli ke benghazi untuk penjemputan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s