Mengenang Pembantaian Massal Yang Mencekam Lewat Film Hotel Mumbai & Film 22 July

Posted: July 16, 2019 by Pak RT in Film
Tags: ,

Penembakan massal di Hotel Taj Mahal, Mumbai

Masih membekas di ingatan kita bagaimana peristiwa pembantaian umat Muslim yang sedang menunaikan shalat Jumat di masjid Christchurch, Selandia Baru, peristiwa yang begitu terekam jelas karena si pelaku teror menyalakan action camera yang terhubung live dengan internet. Seluruh dunia bisa menonton langsung, bagaimana reaksi para korban massal yang ditembaki usai shalat Jumat. Tak ubahnya seperti bermain PlayerUnknown’s Battleground yang belakangan lagi tren. Tragis.

Peristiwa pembantaian yang sama tragisnya terjadi juga beberapa tahun silam, di Mumbai, India pada tahun 2008 & Oslo, Norwegia tahun 2011. Mumbai sebagai simbol pusat perdagangan internasional di India serta Oslo sebagai citra negeri damai tanpa teror. Dan keduanya membelalakkan mata dunia, ada pembantaian massal masyarakat sipil di tengah keramaian kota.

Saya nggak bisa bayangkan kalau itu terjadi di Indonesia, di tempat keramaian berkumpul. Misal di Pekan Raya Jakarta di Kemayoran, Monas, Mal-mal besar di kota-kota besar seperti Surabaya, dll. Langsung menghunjam ke jantung ibukota. Tapi ini cuma khayalan saja, amit-amit jangan sampai terjadi.

Kengerian yang menyebar akibat aksi penembakan massal di dua tempat itu, Mumbai & Oslo, digambarkan dengan jelas dalam film berjudul Hotel Mumbai & 22 July. Hotel Mumbai, film produksi tahun 2019 & film 22 July produksi Netflix tahun 2018. Kengerian yang timbul di 2 tempat tersebut punya karakteristik yang berbeda.

Kota Mumbai yang klasik bernuansa khas India, salah satu destinasi wisata dunia. Teror ini dieksekusi oleh 10 orang yang mengklaim dari organisasi Laskar e-Taiba. Sebuah organisasi yang berdomisili di Pakistan. Misi utama mereka adalah membebaskan muslim Kashmir dari cengkeraman India.

Teror di Mumbai berlangsung selama 4 hari. Mulai tanggal 26  – 29 November 2008. Tercatat jatuhnya korban 174 orang, dan 9 orang pelaku teror, dan lebih dari 300 orang terluka.

Pembantaian ini berlangsung di 9 tempat. Chhatrapati Shivaji Terminus atau lebih dikenal terminal Victoria (Sebuah terminal kereta dengan gaya arsitektur tahun 1800an, masuk ke dalam UNESCO heritage building). Lalu ada Oberoi Trident Hotel, Leopold Cafe, Cama Hospital (sebuah rumah sakit kuno khusus untuk ibu & anak). Lalu ada Nariman House (sebuah bangunan tempat komunitas yahudi biasanya berkumpul), Metro Cinema (sebuah bioskop yang dibangun & dikelola oleh studio film Hollywood, Metro-Goldwyn-Meyer/MGM), Cafe Lilopal.

Para tamu & staf Hotel Taj Mahal, Mumbai menyelamatkan diri dari jendela-jendela hotel, diselamatkan oleh pemadam kebakaran

Semua lokasi berhasil diamankan polisi pada hari ketiga kecuali hotel Taj Mahal. Klimaks dari teror di kota Mumbai justru ada di Hotel Taj Mahal. Seluruh pelaku teror yang semula menyebar menebar pembantaian di banyak tempat berkumpul di Hotel Mumbai sebagai pos terakhir. Disini drama selama 4 hari berlangsung. Drama yang juga menelanjangi minimnya kesiapan polisi Mumbai dalam menangani aksi terorisme. Padahal info intelijen dari Amerika sudah memberi warning signal kepada intelijen India bahwa akan terjadi serangan hanya entah bagaimana sinyal ini tidak diteruskan & ditanggapi dengan layak.

Ditambah parahnya kesiapan aparat India merespon aksi terorisme. Posisi National Guard yang jauh dari Kota New Delhi & tidak ada akses penerbangan menuju Mumbai mengakibatkan National Guard baru tiba 9 jam di Mumbai setelah kejadian menggelar operasi pembebasan sandera di Hotel Taj Mahal.

Polisi India berjaga di depan Hotel Taj Mahal, Mumbai

Aparat yang nggak antisipatif ini diperparah dengan struktur komando di India yang birokratis. Sistemnya yang serba terpusat bikin pemerintah Mumbai harus mengajukan dahulu ke pemerintah pusat untuk menurunkan bantuan polisi federal atau paramiliter tiba ke Mumbai. Betul-betul prosedur yang kaku & buang-buang waktu. Disaat yang sama puluhan orang sudah jadi korban.

Tapi itu cerita dulu….sekarang sudah beda.

By the way, nonton film Hotel Mumbai bikin deg-degan serasa kita ada di hotel itu jadi sandera. Kamu harus ngerasain gimana rasanya hotel yang tenang, teroris berbaur dengan tamu, tiba-tiba entah darimana menyalak suara tembakan. Bingung & panik campur jadi satu. Mau lari kemana kena sambar si peluru tajam. Darah berceceran dimana-mana, organ tubuh tersebar ke penjuru arah.

Teror nggak berhenti di ruang lobi, tapi berlanjut ke kamar-kamar. Bayangin, pintu kamar hotel kamu menginap diketok, ada suara “Room service!” dari luar, reflek kamu buka pintu…..dan…..dor dor dor! Kamu sudah nggak sadarkan diri.

Tapi salut banget buat staf hotel yang berjuang menjaga keamanan tamunya. Sampai detik-detik terakhir mereka menjaga agar para tamu nggak keluar kamar, sampai dievakuasi ke ruangan yang lebih aman. Luar biasa dedikasi para staf hotel.

Kalo belum pernah nonton Hotel Mumbai, tonton dulu deh trailernya…

 

 

Sementara peristiwa di Oslo, situasinya tidak kalah mencekam, dimana peristiwa tragis adalah pembantaian ratusan pemuda-pemudi anak dari kader Partai Buruh. Menurut saya situasi di Oslo jauh lebih mengerikan ketimbang di Mumbai. Karena pelaku teror, yang bernama Anders Behring Breivik pake kostum polisi sekejap menghipnotis &  meraih kepercayaan korban sebelum akhirnya dieksekusi secara massal.

Tragedi 22 Juli ini diawali dengan pemboman gedung pemerintah kota Oslo. Kerusakan yang ditimbulkannya luar biasa dahsyat.

Seorang laki-laki terluka terkena serpihan bom di kantor pemkot Oslo

Seorang laki-laki terluka terkena serpihan bom di kantor perdana Menteri Norwegia di Oslo

 

Kantor pemerintah Norwegia di Oslo rusak parah, 8 orang tewas belasan luka-luka

 

 

Evakuasi korban pembantaian massal di Pulau Utoya, sesaat setelah polisi mengamankan teroris

 

Anders Behring Breivic, pelaku tunggal pemboman & pembantaian 22 Juli 2011 di Oslo, Norwegia

Menurut kesaksian korban yang masih hidup para korban diminta untuk berkumpul di ruangan, lalu para pemuda itu berkumpul karena mereka percaya pelaku polisi yang akan melindungi mereka, setelah berkumpul barulah ia melancarkan aksi pembantaiannya. Korban di pulau Utoya ini memakan sampai 69 orang tewas.

Peristiwa yang terjadi di Pulau Utoya, sekitar 40 km dari kota Oslo, punya alasan kenapa lebih horor dibanding pembantaian di Hotel Mumbai. Bukan karena jumlah korban tewas tapi gimana pembantaian terjadi di sebuah pulau kecil dimana untuk mencapainya harus pake perahu. Korban dikejar pelaku teror sampai ke tepi-tepi jurang pulau tersebut. Karena di pulau praktis korban terisolir nggak bisa kemana-mana.

Pulau Utoya yang indah dinodai tragedi pembantaian anak-anak muda yang tengah camping disini

Nggak ada jalan lain menyelamatkan dari tembakan si teroris kecuali sembunyi di semak-semak/jurang cadas di tepi pulau. Bahkan ada yang berpura-pura mati diantara rekan-rekannya yang telah tewas tertembak demi selamat dari rentetan tembakan.

 

Menteri Luar Negeri Norwegia, Jonas Gahr Stoere (keempat dari kiri) saat mengunjungi event camping di Pulau Utoya sehari sebelum hari naas itu terjadi. 69 orang diantara foto ini jadi korban pembantaian sadis.

 

Perasaan saya saat menonton kedua film ini betul-betul nggak karuan. Tegang campur sedih membayangkan banyak hal, terutama bagaimana doktrin pemikiran radikal bisa tertanam dalam. Bedanya di Mumbai pelakunya Islam dengan pemahaman ekstrim menyimpang, sementara di Oslo seorang freemason radikal & tentu saja penganut white supremacist.

 

Foto horor ini direkam dari helikopter yang diyakini si teroris, Anders Behring Breivik, tengah menghabisi korbannya.

 

Korban pembantaian di tepi pulau ditutup selimut putih, foto diambil tgl 23 Juli 2011

 

Beberapa jenazah ditemukan di tepi pulau Utoya, nampak mereka mencoba menyelamatkan diri hingga ke ujung pulau

 

Pasukan khusus Norwegia tiba di Pulau Utoya

Kengerian peristiwa di Pulau Utoya ini direka ulang lewat film berjudul 22 July. Film berdurasi 1 jam 30 menit ini mendramatisasikan kejadian nyata di Oslo & Pulau Utoya. Sebuah peristiwa yang hanya berlangsung 1 hari saja & hanya dikerjakan oleh 1 orang pelaku.

Lebih seru tonton deh film 22 July besutan Netflix. Tapi sebelumnya tonton dulu trailernya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s